Posted by: hanif1973 | December 22, 2009

Kebiri

Kebiri

Oleh: Hanif Mauludin. SE, M.Si

Saya awali tulisan ini dengan kisah dunia pewayangan,

Adalah Karno bukan golongan bangsawan. Setiap hari dia belajar memanah secara otodidak. Keinginannya adalah dibimbing oleh Begawan. Durno, the best lecture cabang panahan. Saking ngefan-nya dengan Begawan Durno sampai-sampai dipasang patung Begawan kawakan itu dihalaman rumahnya tempat biasa dia berlatih memanah. Alih-alih sebagai sumber inspirasi pikirnya.

Ada lagi R. Arjuna, juga ahli dalam panahan. Pantaslah karena ia belajar panahan dibawah bimbingan langsung Begawan Durno dan memang murid tunggal. Tibalah saatnya R. Arjuna praktek memanah benda bergerak dan melesatlah anak panah menerobos rintangan dahan dan ranting. Buk!..pengawal berlarian mencari buruan. Alangkah terkejutnya semua yang hadir ketika ada dua anak panah menancap dibadan tupai tersebut. Dalam waktu bersamaan hadir Karno, dia mengklaim bawa tupai terjatuh karena anak panahnya. Ditengah perdebatan siapa pemanah sebenarnya, iapun terkesima ketika melihat Guru Impiannya sang begawan durno. Dan dia memohon agar dia diterima sebagai murid sang begawan.

Perdebatan dilanjutkan. R. Arjuna mengklaim tupai adalah haknya, Karno juga mengklaim tupai adalah haknya. Ditengah perdebatan hadir Begawan Durno dengan sikap ”kelihatan” bijak nan arif dia mendamaikan. Sudah-sudah biar saya teliti dulu, kata sang begawan. Untuk menetukan siapa yang berhak dengan tupai ini, maka diadakanlah adu kecermatan memanah antara R. Arjuna yang bangsawan dengan Karno yang hanya anak desa. Walhasil hasilnya seri. Sama-sama jago.

Kemudian Begawan Durno nyeletuk…Hai Karno kamu serius ingin jadi muridku….Iya begawan kata Karno penuh harap. Tapi ada syaratnya kata Begawan Durno…Syarat apapun akan saya penuhi Begawan……kata Karno. Sebagai syaratnya potonglah ibu jarimu sebagai bukti ketaatan dan kesetiaan kepada guru. Saking ngebetnya ingin jadi murid Begawan Durno tanpa pikir panjang karno langsung memotong ibu jarinya.

Arjuna protes hebat kepada Gurunya, Begawan!! kenapa karno diterima jadi murid begawan. Padahal begawan sudah berjanji kepada istana utuk menjadikan aku sebagai ahli panah nomor satu di jagat ini. Sambil manggut-manggut Begawan Durno berbisik lirih, tenang raden dia memang muridku tetapi dengan ibu jarinya hilang mustahil dia bisa belajar memanah dengan baik.

……….Bersyukur kisah itu hanya ada di dunia pewayangan. Akan tetapi alangkah bahayanya jika didalam sebuah organisasi bisnis terlebih organisasi pendidikan yang didalamnya syarat dengan hal-hal yang berbau keilmuan justru terjadi perilaku seperti ala durno dan karno. Malah mengebiri potensi-potensi, kreasi-kreasi, keberanian-keberanian seseorang yang justru seharusnya di tumbuh kembangkan dan difasilitasi.

Posted by: hanif1973 | December 22, 2009

sense of organization

Sense of Organization

Oleh: Hanif Mauludin

Peter F.Drucker, Dalam Bukunya yang berjudul An Introductory View of Management, mengatakan, organisasi jika anggotanya mengalami organizitis “penyakit organisasi” dengan gejala seperti kelesuan atau penurunan sikap positif terhadap organisasi yang diakibatkan berkurangnya kesediaan serta kesetiaan untuk mengusahakan upaya yang tinggi bagi kepentingan organisasi merupakan masalah yang harus segera diatasi. Nah ! apakah pembaca pernah mengalami atau mengetahui gejala seperti kata Drucker?. Tulisan yang anda baca ini paling tidak dapat digunakan sebagai cermin bagi nahkoda dan awak organisasi untuk berkaca dan selanjutnya berperan menurut fungsi dan kapasitasnya. Seiring dengan perubahan peradapan serta cepatnya laju perkembangan teknologi saat ini, muncul konsekuensi perubahan dinamika kehidupan masyarakat. Hal ini ditandai dengan peralihan pola hidup (manusia) dari tradisional ke arah kehidupan modern, pergeseran itu mendorong semakin meningkatnya tuntutan kebutuhan dan pengharapan manusia, baik kualitas maupun kuantitas. Untuk memenuhi pengharapan dan kebutuhan tersebut, pilihan yang harus dilakukan manusia adalah dengan melakukan suatu aktifitas. Namun, adanya keterbatasan-keterbatasan yang ada pada tiap-tiap individu; keterbatasan modal, fisik, daya pikir, maupun waktu, dibarengi agar tuntutannya (needs and wants) tetap dapat diwujudkan, manusia harus bekerjasama dengan yang lain. Kerjasama ini umumnya dilakukan dalam suatu wadah yang disebut organisasi. Melalui organisasi ini, memungkinkan individu meraih hasil yang sebelumnya tidak mungkin dicapai secara sendiri-sendiri. Secara definitif organisasi dapat diartikan sebagai suatu sistem usaha bersama (kerja sama) sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi bukanlah fenomena yang jauh dan impersonal. Organisasi ada di mana-mana dan ia mempengaruhi kehidupan manusia. Sebagian besar waktu kita habiskan sebagai anggota dari organisasi kerja, sekolah, dan negara, dimana kita terlibat didalam organisasi tersebut sebagai karyawan, mahasiswa, dan warga negara. Sesuai kodrat manusia yang bersifat sosial, manusia cenderung bekerja sama dalam hubungan yang saling bergantung dan hal yang inherent sehingga dengan sendirinya manusia pada dasarnya telah mempunyai sense of organization yang merupakan bagian dari kehidupannya. Dengan demikian tanpa harus didahului oleh usaha “menciptakan”, sense of organization menjadi sesuatu yang harus lebih dibudayakan dan dikembangkan pada setiap individu. Sense of organization dapat diartikan sebagai sifat hubungan seorang individu dengan organisasi yang memungkinkan seseorang untuk mempunyai komitmen yang tinggi terhadap organisasi termasuk keterlibatan kerja, kesetiaan serta kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi yang merupakan tempat ia akan wewujudkan kebutuhan dan harapannya. Sense of organization juga dapat dimaksudkan sebagai suatu ikatan kejiwaan individu untuk berorganisasi secara utuh. Selanjutnya, sense of organization akan diperjelas sebagai derajat kepekaan seseorang akan hal-hal yang berhubungan dengan organisasi. Derajat kepekaan ini pada akhirnya akan mengalami proses transformasi baik secara afektif maupun kognitif yang selanjutnya terukur dalam bentuk perilaku individu dalam organisasi. Sense of organization merupakan embrio terbentuknya commitment bukan hanya attachment semata. Dengan sense of organization yang dimiliki, anggota organisasi akan dapat bekerja dengan sepenuh hati, melibatkan diri secara aktif dan mengembangkan daya inovasi serta kreativitas dalam aktivitas organisasi dan pada gilirannya akan tercapai prestasi kerja yang tinggi. Keinginan setiap individu untuk berorganisasi sebenarnya telah lahir dengan sendirinya sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu setiap individu hanyalah membutuhkan semacam awareness untuk merawat dan menggunakan sense tersebut dalam aktivitas nyata agar tempat atau wadah dimana ia berkreasi dan berprestasi benar-benar dapat memenuhi kebutuhan dan harapannya. Dengan kata lain setiap individu harus melakukan pemberdayaan terhadap sense of organization. Sense of organization yang tinggi akan memperlihatkan beberapa perilaku anggota organisasi sebagai berikut: (1)Keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi.“Organization without people is nothing”, Loyalitas terhadap organisasi merupakan salah satu modal dasar agar organisasi tetap sustainable. Jika setiap anggota organisasi memiliki kesetian yang tinggi maka organisasi akan memiliki kekuatan didalam menghadapi tantangan. (2)Kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi. “People without activity is zero”, Kinerja manusia merupakan sumbangan yang penting bagi kinerja organisasi. Pekerjaan yang dilakukan tanpa spirit profesionalisme hanya akan menyebabkan kegagalan organisasi meraih tujuan. (3)Kepercayaan dan penerimaan yang kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi. “Trust is power”, Mangkirnya anggota organisasi terhadap nilai dan tujuan organisasi bisa di ibaratkan seperti sleeping with the enemy, dimana setiap saat ia dapat berubah menjadi senjata perusak organisasi yang paling efektif dan terkadang sulit dideteksi. Selanjutnya apa peranan nahkoda organisasi dalam hal pemberdayaan sense of organization anggotanya, beberapa variabel dapat dilakukan antara lain: (1)Pencanangan visi/misi organisasi. Artinya, dengan menyadarkan bahwa individu tidak hanya cukup sebagai anggota akan tetapi juga paham terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi sehingga dapat memahami sasaran dan kebijaksanaan organisasi yang pada akhirnya dapat berbuat dan bekerja sepenuhnya untuk keberhasilan organisasi. (2)Perhatian terhadap anggota. Dalam organisasi yang sudah berjalan, perhatian organisasi terhadap aggotanya diwujudkan melalui keseimbangan antara pemenuhan hak dan pemberian tanggung jawab. Beberapa pendekatan yang dapat dipergunakan antara lain : (a) Pendekatan humanis, fokusnya pada kesediaan/kerelaan pemimpin organisasi untuk melakukan perbaikan taraf hidup anggota. (b) pendekatan bisnis, memberikan pengertian pada anggota agar tetap bisa menjaga dan meningkatkan produktivitas karena terwujudnya kebutuhan dan harapan mereka bermula dari kinerja organisasi yang baik. (3)Pelatihan dan pengembangan. Kesempatan untuk memperoleh peningkatan keterampilan dan keahlian merupakan bagian dari penghargaan. Dengan merasa dirinya dihargai maka diharapkan individu semakin lebih erat sebagai bagian dari organisasi. (4)Keterlibatan anggota. Melibatkan anggota organisasi dalam segmen-segmen tertentu sesuai dengan kapasitas dan kapabiltasnya diharapkan dapat meningkatkan rasa kepercayaan dan tanggung jawabnya terhadap organisasi. Kesimpulan, seperti yang pernah dikatakan oleh Socrates bahwa “manusia adalah makhluk kecil yang nampak tiada bermakna ditengah alam raya yang maha luas”. Hal ini mengisyaratkan adanya keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki manusia dalam menjalani kehidupannya. Oleh karena itu secara alamiah manusia telah dibekali naluri untuk bekerja sama dengan manusia lainnya dalam rangka mengisi keterbatasan-keterbatasan tersebut yang umumnya melalui suatu wadah yaitu organisasi. Dalam berorganisasi diperlukan adanya ikatan kejiwaan (sense of organization) sebagai tenaga penggerak utama demi terselenggaranya fungsi organisasi yang efektif. Apabila individu mempunyai sense of organizationSense of organization merupakan cikal bakal terbetuknya commitment yang tinggi, lebih dari sekedar attachment dimana commitment merupakan variabel yang dapat mempengaruhi performance. Dengan demikian sense of organization merupakan pondasi utama terhadap kelangsungan organisasi didalam mencapai tujuannya. Nah!, sudahkan nahkoda organisasi dan awak organisasi berdayakan yang tinggi, maka yang muncul bukan hanya sifat loyal yang pasif, tetapi juga melibatkan diri dalam hubungan yang aktif dengan organisasi kerja.

Posted by: hanif1973 | October 29, 2008

Entrepreneur Inside

Pasca kerusuhan di Tuban, saya dan keluarga menyempatkan diri untuk mengunjungi kota itu. Lantaran saya kangen mertua dan istri rindu kampung halaman. Memang benar kata Koran, pendopo kabupaten hancur porak poranda. Dipusat kota ribuan massa berdemo karena belum puas dengan hasil PILKADAL (Pilihan Kepala Daerah Langsung). Dibagian pinggiran kota menuju pesisir pantai saya melihat sekelompok bapak-bapak dan ibu-ibu sedang sibuk mengolah hasil melaut (baca:nelayan). Kelompok bapak sedang sibuk menyeleksi dan menyiapkan Ikan kakap, kerapu, bawal, cumi-cumi, udang, rajungan dan beberapa hasil tangkapan lainnya untuk dijual ke pelanggan. Sedangkan kelompok ibu sibuk dengan menjemur ikan, membuat ikan asap dan sebagian terlihat membuat terasi. Tertarik dengan aktivitas mereka saya pun menyempatkan berbincang. Lho kok ndak ikut ke alun-alun untuk demo, dan seorang ibu menjawab. Sir! ….We do not manage politic nor macro economy but we manage opportunity…Luar biasa!!!, mereka layak disebut sebagai wirausaha nelayan BUKAN sekedar nelayan pada umumnya yang hanya menangkap ikan. Disamping cakap sebagai nelayan merekapun cakap dalam mengolah hasilnya supaya lebih bernilai tambah. Dalam bahasa kampus tindakan itu disebut value added. Cumi-cumi diolah dan dikeringkan selanjutnya dikemas secara praktis siap untuk dimasak sehingga laku tiga kali lipat ketika dijual. Ikan asap laku dua kali lipat dari ikan mentah, rajungan dikelompokkan menurut ukurannya dengan kriteria A dan B menimbulkan kualitas berbeda dan tentu harganya berbeda. Hasil tangkapan yang tidak masuk pasar diolah menjadi bahan dasar terasi, krupuk ikan dan beberapa produk olahan lainnya. Kemampuan membaca peluang, ada inovasi-kreativitas serta keinginan untuk tumbuh dan berkembang telah menjadi mindset bisnis mereka. Layak kita puji ketika banyak nelayan nelayan lain hanya menjadi nelayan bukan wirausaha nelayan. Itulah maksud Entrepreneur Inside, tanamkan semangat kewirausahaan didalam setiap aktivitas kerja dan bisnis, dimanapun dan kapanpun.

Banyak orang beranggapan bahwa kewirausahaan adalah identik dengan usaha mikro atau kecil. Tidaklah demikian!, wirausaha menciptakan usaha dengan cara pandang kewirausahaan, artinya mengejar peluang yang ditandai dengan praktek inovasi dan bertumbuh dengan profitabilitas sebagai sasaran utamanya. Sedangkan usaha kecil dilain pihak adalah organisasi yang dimiliki, dioperasikan dan dibiayai secara independent, mempunyai kurang dari 100 karyawan dan tidak harus terlibat dalam praktek bisnis baru atau inovasi. Agar menjadi kewirausahaan, usaha mikro/kecil harus inovatif dan mencari peluang baru. Banyak perusahan kecil dalam perkembangannya selalu kecil dan terus mengecil yang pada akhirnya terlibas oleh perubahan lingkungan bisnis. Memang tidak salah! seseorang atau sekelompok orang yang berjuluk wirausaha bisa memulai usahanya dari bisnis dalam skala kecil, namun mereka selalu mengejar pertumbuhan. Sehingga walaupun bisnis skala kecil, tapi bukan kecil- kecilan apalagi asal-asalan, melainkan berkonsep, unik dan dikelola secara profesional.

Dalam kontek modern, kewirausahaan memerlukan pendidikan dan pembelajaran. Melalui pendidikan dan pembelajaran inilah diharapkan individu atau kelompok memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan usaha/kegiatan bisnis secara mandiri. Pendidikan/pembelajaran dan sosialisasi kewirausahaan bagi setiap individu atau kelompok masyarakat sangat penting dilakukan utamanya bagi mereka yang tertarik untuk berwirausaha. Secara mikro, pendidikan/pembelajaran dan sosialisasi kewirausahaan akan dapat membentuk seseorang mempunyai jiwa mandiri, mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain, dan memberikan solusi “terbaik” bagi masalah pengangguran. Secara makro, pendidikan/pembelajaran dan sosialisasi kewirausahaan dapat menciptakan wirausaha yang bermutu, tangguh dan beretika sehingga dapat menunjang pertumbuhan usaha.

Begitulah Wirausaha dengan Entrepreneur Inside-nya yang cenderung berkreativitas tidak dengan cara yang biasa melainkan dengan cara yang luar biasa. Mereka lebih banyak menggunakan otak kanan yang eksperimental, intuitif, holistik, divergen, spontanitas dan nonverbal. Dalam menyikapi pasar mereka tidak “terlalu” terseret oleh carut marut politik dan gonjang ganjing kondisi ekonomi makro yang sarat dengan dalil-dalil maupun asumsi-asumsi yang terkadang menakut-nakuti dengan hasil analisis yang jlimet, linear, numerikal dan presisi. Melainkan mereka sibuk mencari peluang-peluang baru dan selalu komitmen dengan bisnisnya. Ibarat ombak dan kapal, ketika ombak naik kapalpun naik ketika ombak turun kapalpun turun. Wirausaha apapun bisnisnya selalu seperti itu ada untung ada rugi. Dengan selalu berpikir positif dan berusaha keras, percayalah TUHAN sebagai penolong yang terbaik dan suksespun siap diraih.

Categories