<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hanif1973&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://hanif1973.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hanif1973.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Feb 2011 12:49:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hanif1973.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hanif1973&#039;s Blog</title>
		<link>http://hanif1973.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hanif1973.wordpress.com/osd.xml" title="Hanif1973&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hanif1973.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>The Inspiring Teacher</title>
		<link>http://hanif1973.wordpress.com/2011/02/16/the-inspiring-teacher/</link>
		<comments>http://hanif1973.wordpress.com/2011/02/16/the-inspiring-teacher/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 12:49:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif1973</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanif1973.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[THE GOOD TEACHER IS TEACHING THE BETTER TEACHER IS EXPLAINING THE BEST TEACHER IS DEMONSTRATING THE EXCELLENT TEACHER IS INSPIRING…….. Empat kalimat tersebut pernah saya tampilkan sebagai status difacebook dan cukup mendapat comment dari teman, murid bahkan guru saya. Ter-INSPIRASI dari beragam comment tersebut, sayapun mulai meng-INSPIRASI diri saya untuk menulis artikel singkat ini dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanif1973.wordpress.com&amp;blog=5281037&amp;post=33&amp;subd=hanif1973&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>THE GOOD TEACHER IS TEACHING THE BETTER TEACHER IS EXPLAINING THE BEST TEACHER IS DEMONSTRATING THE EXCELLENT TEACHER IS INSPIRING……..  Empat kalimat tersebut pernah saya tampilkan sebagai status  difacebook dan cukup mendapat comment dari teman, murid bahkan guru  saya. Ter-INSPIRASI dari beragam comment tersebut,  sayapun mulai  meng-INSPIRASI diri saya untuk menulis artikel singkat ini dengan tajuk  “The Inspiring Teacher”. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.  <span id="more-33"></span> Wikipedia mendifinisikan Guru (dari bahasa Sanskerta: yang berarti  guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah “berat”) adalah seorang  pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk  pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,  mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.  Dalam perspektif universal kita mungkin  sepakat bahwa setiap kita adalah guru. Anda adalah guru bagi diri anda,  Ayah adalah guru bagi istri dan anak anaknya, Ulama, Pendeta, Biksu  adalah guru bagi pengikutnya, pimpinan organisasi adalah guru bagi  anggotanya. Demikian hakekat guru, ia berhubungan dengan ilmu dan  pengetahuan yang dia miliki dan mempunyai kewajiban mendistribusikan  ilmu serta pengetahuan tersebut bagi kemaslahatan alam semesta. Guru yang baik adalah yang mengajarkan ilmunya, Ada tiga syarat agar  menjadi guru yang baik yaitu kerelaan, kesabaran dan kemudahan. Rela dalam arti bersedia memberikan ilmu dan pengetahuan kepada siapapun  tanpa harus ”pelit ilmu”. Bukankah Imam Ali ra, pernah berkata ilmu  semakin diajarkan semakin bertambah jadi kenapa kita harus ”pelit”  terhadap ilmu. Sabar dalam arti telaten memberikan bimbingan karena murid yang kita hadapi tidak sama kapasitasnya. Mudah dalam arti jangan persulit murid. Tanyakan kepada murid dengan  cara bagaimana dia merasa mudah menyerap ilmu dan pengetahuan. Bukankah  penemuan mutakhir  telah mengklasifikasikan cara belajar murid dengan  tiga karakteristik, V-A-K. Jadi kalo murid tipe auditorial sudah  seharusnya sang guru akan banyak menggunakan omongannya untuk  mengajarkan sesuatu kepada muridnya. Demikian juga ketika murid bertipe  kinestetik sang guru akan telaten menggunakan peraga dalam mengajarkan  ilmunya. Atau bertipe visual berarti sang guru harus kreatif menata  tampilan presentasinya. Dengan demikian seorang guru harus tidak pelit dengan ilmunya,harus  sabar menghadapi kenakalan muridnya serta tidak suka mempersulit  muridnya.  Tidak cukup hanya mengajarkan dan menjelaskan, guru yang baik juga  dituntut sebuah keteladan, THE BEST TEACHER IS DEMONSTRATING.  Jadi kalo  sang guru sudah mengajarkan dan menjelaskan makna pentingnya Apresiasi  terhadap sesama berarti sang Guru harus bisa mendemonstrasikan seperti  apa perilaku apresiatif itu. Dalam istilah pesantren, seorang guru tidak  cukup menyampaikan mauidhoh hasanah tapi juga dituntut bisa menunjukkan  uswatun hasanah. Kalo anda punya kebiasan setelah membaca artikel didalam blog seseorang  kemudian anda tinggalkan begitu saja tanpa ada ”sekedar comment kecil  atau sekedar mengucap kata OK” berarti anda belum terbiasa dengan  perilaku apresiasi kepada sesama. Banyak saudara saudara kita ketika  masuk ke blog seseorang, datang tidak salam pulang pun juga tidak  pamitan. Mendownload isi artikel kemudian pulang tanpa ucapan terima  kasih. Tidak demikian seharusnya.  Terakhir adalah THE EXCELLENT TEACHER IS INSPIRING. Menurut kamus  besar bahasa Indonesia inspirasi adalah ilham. Menimbulkan inspirasi  berarti mengilhami. Ketika seseorang menyimak kisah surga neraka  kemudian menarik minat dirinya untuk menciptakan teori reward and  punishment, itulah inspirasi. Ketika seorang guru mengajarkan dan  menjelaskan apa itu wirausaha. Kemudian sang guru mendemonstrasikan  seperti apa dia menjalankan prinsip prinsip kewirausahaan. Akhirnya si  murid meniru jejak langkah sang guru dan bahkan menjadi wrausaha lebih  hebat dari sang guru, itulah inspirasi. Demikian pula ketika sang Guru  menjelaskan manfaat besar era ”Blog” kemudian sang guru rajin menulis  pemikiran pemikirannya dan kemudian murid muridnya mengikuti jejak  langkah sang guru menjadi blogger handal, itulah inspirasi. Banyak guru dalam menjalankan amanat sebagai guru belum berhasil  mencapai derajat sebagai inspirator. Kenapa demikian karena sang guru  belum berhasil menjadi good teacher, better teacher dan the best  teacher. Pesiapan apa adanya dalam mengajar berdampak pada mengajar apa  adanya sehingga berakibat pada rendahnya internalisasi llmu dan  pengetahuan kepada dirinya maupun kepada murid muridnya. Jadilah inspirator, jadikan diri kita bagian dari perubahan. Sukses untuk kita semua !</div><br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanif1973.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanif1973.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanif1973.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanif1973.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanif1973.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanif1973.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanif1973.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanif1973.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanif1973.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanif1973.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanif1973.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanif1973.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanif1973.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanif1973.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanif1973.wordpress.com&amp;blog=5281037&amp;post=33&amp;subd=hanif1973&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanif1973.wordpress.com/2011/02/16/the-inspiring-teacher/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ad1885b4b82e148096b6231a2e9be4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanif1973</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IMAGES OF ORGANIZATION</title>
		<link>http://hanif1973.wordpress.com/2011/02/16/images-of-organization/</link>
		<comments>http://hanif1973.wordpress.com/2011/02/16/images-of-organization/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 12:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif1973</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanif1973.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Pemikiran Gareth Morgan tentang metafora-metafora organisasi Oleh: Hanif Mauludin SE. M.Si[1] Pendahuluan Dalam bukunya yang berjudul Images of Organization Gareth Morgan mengatakan bahwa manajer atau professional dalam mengelola organisasi harus memiliki ketrampilan  untuk membaca situasi (lingkungan organisasi). Dimana ketrampilan itu dibangun atas proses  intuitif yang dipelajari  melalui pengalaman dan  bakat alamiah. Berbicara mengenai intuitif yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanif1973.wordpress.com&amp;blog=5281037&amp;post=29&amp;subd=hanif1973&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p>Pemikiran Gareth Morgan tentang metafora-metafora organisasi</p>
<p>Oleh: Hanif Mauludin SE. M.Si<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pendahuluan</strong><strong> </strong></p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul Images of Organization Gareth Morgan mengatakan bahwa manajer atau professional dalam mengelola organisasi harus memiliki ketrampilan  untuk membaca situasi (lingkungan organisasi). Dimana ketrampilan itu dibangun atas proses  intuitif yang dipelajari  melalui pengalaman dan  bakat alamiah. Berbicara mengenai intuitif yang dibagun atas bakat alamiah memang terkesan suatu ketrampilan yang luar biasa, dimana ada pemikiran bahwa bakat mengelola atau kemampuan sebagai problem solver adalah dilahirkan bukan dibuat. Mereka ini dianggap memiliki kemampuan khusus untuk memahami dan selanjutnya mentransformasi situasi tersebut untuk mereka hadapi. Mereka (para manajer tipe ini) memiliki kapasitas pemikiran yang terbuka dan fleksible serta bisa melihat situasi yang terjadi secara komprehensive. Mereka juga peduli pada wawasan atau pengetahuan baru sehingga bisa membaca situsi dari berbagai sudut dan selanjutnya bisa bertindak dalam berbagai kemungkinan.  Jika dikaitkan dengan kehidupan organisasi manajer harus bisa melihat organisasi dalam berbagai sisi.</p>
<p><span id="more-29"></span></p>
<p>Buku yang tersusun dalam 12 bab ini mengeksplorasi dan mengembangkan seni membaca dan memahami kehidupan organisasi yang diperlukan oleh manajer. Dengan menggunakan istilah metaphor atau perumpamaan, ia mengajak para manajer untuk melihat organisasi dengan cara yang berbeda dan unik. Penggunaan istilah metaphor berimplikasi pada cara berpikir atau cara melihat tentang bagaimana kita memahami dunia secara umum. Istilah metaphor juga mengandung makna menyamakan dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman. Dengan cara demikian akan semakin mempertajam pengetahuan kehidupan organisasi dari berbagai sudut pandang.</p>
<p>Dalam buku ini, garet morgan membedah pemahaman tentang kehidupan organisasi dengan menggunakan istilah metaphor yang berarti menyamakan. Dalam arti kesamaan cara kerja dan aktivitasnya. Gareth Morgan menyampaikan 8 metafora organisasi. Yaitu: (1) organisasi sebagai mesin (organization as machine). (2) Organisasi itu seperti makhluk hidup (organization likes organism). (3) Organisasi adalah otak (organization as brain). (4) Organisasi adalah budaya (organization as culture).  (5) Organisasi sebagai system politik (as political system).  (6) Organisasi sebagai psychic prison. (7) Organisasi itu perubahan yang terus menerus (flux and transformation)  dan (8) organisasi adalah alat untuk menguasai (instrument of domination).</p>
<p>Selanjutnya pada chapter 10 dan 11 morgan menjelaskan bagaimana menggunakan metaphor tersebut sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan melihat, memahami dan menginterpretasikan aspek aspek kunci dalam kehidupan organisasi. Sedangkan pada chapter 12 morgan membuat suatu sketsa atas implikasi yang luas untuk mengelola situasi organisasi yang bergejolak. Dengan memahami dan memandang organisasi dari berbagai metapora tersebut diharapkan manajer dapat menemukan cara untuk mengelola organisasi secara lebih efektif.</p>
<p>Permikiran gareth morgan tentang metafora organisasi ini mempunyai kontribusi dalam perkembangan teori dan praktek manajemen. Morgan telah menawarkan sebuah konsep bagaimana melihat kehidupan organisasi dari berbagai cara pandang dan selanjutnya digunakan untuk lebih memahami dan meredesain ulang organisasi dalam dunia yang mengalami perubahan.</p>
<p><strong>Metafora 1. Organisasi Sebagai Mesin</strong><strong> </strong></p>
<p>(Mechanization takes command &#8211; Organization as Machine)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dalam chapter 2 morgan mengevaluasi kesan organisasi sebagai mesin dan membuat ilustrasi yang menggambarkan pengembangan organisasi sebagaimana birokrasi dalam organisasi. Ketika manager berpikir organisasi sebagai mesin, mereka akan cenderung untuk memanage dan mendesain organisasi sebagaimana mesin membuat keterkaitan diantara bagian bagian yang bekerja secara keseluruhan. Dimana suatu saat mesin itu bisa memberikan efektitivitas yang tinggi namun pada sisi yang lain mesin juga memberikan hasil yang kurang menguntungkan. Efektif karena mesin akan bekerja secara lebih cepat, kurang menguntungkan ketika mesin tersebut mempunyai biaya tetap yang tinggi. Salah satu problem dalam organsasi modern adalah mereka memiliki cara berpikir mekanik yang melekat pada gambaran organisasi yang itu sangat sulit untuk diatur dengan cara cara lain. Dalam gambaran ini, organisasi sebagai mesin akan melahirkan aktivitas mekanis yang itu berarti mempunyai peran perintah.</p>
<p>Perumpaan organisasi sebagai mesin ini akan melahirkan pola kerja mekanik dan ini akan memunculkan konsep birokrasi dalam organisasi. Jika kita menggambarkan organiasi sebagai mesin maka konsekuensinya adalah organiasi itu bersifat rutinitas, harus efisien, reliable (handal) dan dapat diprediksi. Bentuk organisasi mekanik dapat membuat operasi organisasi menjadi lebih efektif.</p>
<p>Pemikiran Gareth Morgan tentang  organisasi sebagai mesin ini mempunyai kesamaan implikasi dengan perkembangan teori manajemen pada era Adam smith weber dan fayol tentang pembagian kerja, pentingnya struktur organisasi, otoritas dan prinsip prinsip manajemen lainnya. Lebih lanjut dalam metafor organiasi sebagai mesin, organisasi perlu menetapkan tujuan, kejelasan peran dan tugas, efisiensi, perencanaan, pengorganisasi dan pengawasan.</p>
<p><em>Kekuatan dan keterbatasan organisasi sebagai mesin</em><em> </em></p>
<p>Layaknya sebagai mesin, organsasi akan dapat bekerja dengan baik ketika: a) penekanan pada tugas sangat ketat untuk mencapai kinerja. b) Kondisi lingkungan stabil dan meyakinkan untuk menghasilkan produk. c) Ketika seseorang mengharapkan produksi tepat pada saat diperlukan. d) Ketika ketepatan bisa ditentukan dalam arti ketidakpastian bisa ditekan seminim mungkin. e) Ketika sumberdaya manusia bersedia tunduk pada pekerjaan.</p>
<p>Dipandang sebagai mesin organiasi juga mempunyai keterbatasan, antara lain: a) karena sifat mekanisnya yang terkesan kaku maka organisasi akan sulit melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap lingkungannya. b) dapat menimbulkan dampak negatif biroklrasi. c) karena organisasi bersifat mekanis sehingga menimbulkan ketidaksiapan terhadap faktor ketidakpastian dan hal yang tidak diharapkan. d) menimbulkan dehumanisasi terhadap karyawan.</p>
<p>Organisasi sebagai mesin menyebabkan ia sulit melakukan inovasi karena ia bekerja berdasarkan tujuan awal yang akan dicapai. Perubahan perubahan lingkungan yang membutuhkan respon ditanggapi dengan posisi bertahan sehingga perubahan sulit terjadi dalam organisasi. Padahal dalam situasi tersebut diperlukan pemikiran dan tindakan kreatif dan inovatif tinggi. Dengan demikian organiasi yang beroperasi layaknya sebuah mesin sangat sulit diterapkan dalam era saat ini yang membutuhkan pemikiran konstruktif, adaptif dan fleksibel terhadap perkembangan dan perubahan lingkungan.</p>
<p><strong>Metafora 2. Organisasi sebagai Organisme</strong></p>
<p>(Nature intervenes &#8211; Organization as Organism)</p>
<p>Pada pemikiran yang kedua ini morgan ingin menggambarkan organisasi sebagai sesuatu yang hidup, berkembang dalam pengaruh lingkungan sekitar. Organisasi yang satu dengan organisasi yang lain bisa berbeda karena berada pada lingkungan yang berbeda pula. Morgan menggambarkan organisasi seperti hanlya buaya yang hidup di daerah rawa akan berbeda dengan onta yang hidup dipadang pasir. Keduanya memiliki anatomi dan cara hidup yang berbeda. Demikian organisasi dalam situasi yang kondusif tentu berbeda dengan organisasi yang sedang berada dalam masa krisis.  Morgan menegasakan organiasasi birokrasi akan lebih cocok dalam situasi yang stabil yang menekannkan pada efektivitas.</p>
<p>Dalam bab 3 ini morgan membahas beberapa hal terkait dengan organisasi sebagai organisme yaitu: orgasnisasi sebagai sistem yang terbuka, proses adaptasi organisasi terhadap lingkungannya,  daur hidup organisasi (life cycles),  faktor yang mempengaruhi kesehatan dan perkembangan organisasi dan hubungan antara spesies dan ecology.</p>
<p><em>Organisasi sebagai Sistem Terbuka </em></p>
<p>Dalam pemikiran organisasi sebagai sistem terbuka, untuk survive organisasi harus terbuka terhadap lingkungannya dan harus mendapat hubungan secara tepat terhadap  lingkungannya. organisasi sebagai sistem terbuka akan ditemukan dalam organiasi yang bersifat organik. Dalam bentuk organik, organsiasi akan mudah menyesuaiakan dengan lingkungan karena ia fleksibel. Hal ini berbeda dengan organsiasi birokrasi yang cenderung mekanistik.</p>
<p>Dalam sistem terbuka manajemen diperlukan kehati-hatian dalam upaya memberikan kepuasan serta menyeimbangkan kebutuhan internal terhadap kebutuhan beradaptasi dengan lingkungan. Perlu juga diketahui bahwa tidak ada pendekatan terbaik dalam proses adaptasi dengan lingkungan sehingga diperlukan berbagai kemungkinan penyesuaian.   Dalam sistem terbuka manajemen diperlukan kehati-hatian dalam upaya memberikan kepuasan serta menyeimbangkan kebutuhan internal terhadap kebutuhan beradaptasi dengan lingkungan.</p>
<p><em>Proses adaptasi organisasi terhadap lingkungannya</em></p>
<p>Tidak ada pendekatan terbaik dalam proses adaptasi dengan lingkungan sehingga diperlukan berbagai kemungkinan penyesuaian. Dalam organisasi yang sama dimungkinkan ada perbedaan pendekatan manajemen dalam menyelesaiakan berbagai tugas. Sebagai organisme, organisasi juga terdiri atas interaksi berbagai subsistem. Subsistem tersebut meliputi lingkungan, strategi, human-cultural, struktural, teknolog dan manajemen. Sebagai contoh perubahan terhadap teknologi dan kondisi pasar bisa menjadi masalah baru organisasi dengan demikian organsasi dan manajemen perlu membuka diri dan fleksibel terhadap perubahan tersebut.</p>
<p><em>Kekuatan dan keterbatasan organisasi sebagai organisme</em></p>
<p>Dengan menggambarkan organisasi sebagai suatu organisme yang berhubungan dengan lingkungan akan melahirkan teori teori baru yang berkaitan dengan pengembangan organisasi dan manajemen. Mendorong para manajer untuk berpikir secara terbuka dan fleksibel dalam melihat organisasi. Dengan demikian manajer dapat mengenali proses yang terjadi serta berjalan fungsi organisasi dalam mencapai efektivitas. Manajemen organisasi juga dapat meningkatkan improvisasi melalui perhatian yang sistematik terhadap pemuasan akan kebutuhan jika organisasi tersebut survive. Organisasi dengan cara pandang sebagai organisme akan terdorong untuk melakukan inovasi. Keterbatasan dalam metafora ini adalah organisasi sebagai suatu satu kesatuan sistem (unity) sehingga terkadang tidak mudah menyesuaikan secara bersamaan dengan lingkungan. Dilain pihak tidak semua organisasi memiliki unsur unity yang kuat sehingga kontra produktif antar bagian kerap terjadi sebagai akibat perbedaan kepentingan pada level individu atau group bahkan organisasi itu sendiri. Keterbatan berikutnya dalam metafora organisasi sebagai organisme karena organisasi terkadang memiliki ideologi yang ini akan sulit mengalami perubahan. Dengan demikian ideologi ini bisa menjadi faktor penghambat dalam melakukan penyesuaian antara organisasi dengan lingkungannya.</p>
<p><strong>Metafora 3. Organisasi sebagai Otak</strong><strong> </strong></p>
<p>(Learning &#8211; Self Organization – Organization as Brain)</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="1" height="12"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p>Salah satu fungsi otak adalah memproses informasi. Demikian juga dalam organisasi semua bagian atau fungsi fungsi bekerja berdasarkan informasi yang berasal bagian satu dengan yang lain. Dalam Organisasi model birokrasi keputusan dibuat melalui proses informasi dengan berdasar pada aturan. Dermikian pula manajer membuat keputusan atas kebijakan dan perencanaan juga berdasarkan proses informasi. Ini berarti organisasi adalah sistem informasi, sistem komunikasi dan juga sistem pengambilan keputusan seperti cara kerja otak.</p>
<p>Hasil pemikiran yang berkaitan dengan metafora ini adalah peranan struktur organisasi yang dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan. Seperti Jay Galbraith yang menaruh perhatian pada hubungan antara ketidakpastian, proses informasi dan desain organisasi apakah bentuk organik atau mekanistik.</p>
<p>Terkait dengan motafora organisasi sebagai otak adalah pentingnya learning organization. Pertanyaan menarik dalam chapter 4 ini adalah ”dapatkah organisasi belajar untuk belajar?” pertanyaan sangat penting dijawab oleh organisasi modern yang berhadapan dalam situasi perubahan cepat dan sulit diprediksi. Seperti yang disampaikan oleh peter sange tentang ide pengemabangan kapasitas individu pembelajaran organisasi sebagai faktor utama dalam mendesain dan memanage organisasi yang itu diperlukan dalam menghadapi tantangan perubahan.</p>
<p>Dengan demikian organisasi yang belajar harus: a) mengamati dan mengantisipasi perubahan  dalm skop yang luas untuk mendeteksi adanya variasi atau penyimpangan. b) mengembangkan kemampuan untuk pertanyaan, tantangan, dan bentuk operasi perubahan dan asumsi asumsinya. c)   memberikan arahan strategi yang tepat dan pola organisasi yang dimunculkan.</p>
<p><em>Kelemahan dan keterbatasan organisasi sebagai otak</em></p>
<p>Sebagai kekuatan dalam metafora ini adalah memunculkan tuntutan organisasi harus belajar agar bisa survive dalam perubahan. Organisasi harus kreatif dan inovatif  adaptif terhadap kebutuhan akan teknologi. Keterbatasan dalam metafora ini adalah terkadang otak itu menjadi dirinya sendiri, dia acuh terhadap faktor luar. Dia bekerja menurut dirinya sendiri dan ada unsur egoisme terhadap kepentingan pribadi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Metafora 4. Organisasi sebagai Budaya</strong><strong> </strong></p>
<p>(Creating Social reality – Organization as Culture)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Budaya menunjukkan bentuk perkembangan suatu masyarakat yang ditunjukkan melalui sistem pengetahuan, ideologi, nilai, aturan, dan kebiasan sehari hari. Demikian pula organisasi dia juga memiliki kesamaan dengan atribut budaya tersebut. Organsasi juga mempunyai ideologi, nilai nilai yang berlaku dan juga aturan serta kebiasan yang telah dipahami dan dianut oleh anggota organisasi. Dijepang yang cenderung mempunyai budaya kolektivistik akan berbeda dengan amerika yang memliki budaya indidualistik. Dijepang kebersamaan, komitmen dan masa kerja yang panjang mewarnai kehidupan beroraganisasi. Sedangkan di amerika dengan tingkat persaingan antara individu yang tinggi menunjukkan bahwa pengalaman kerja pada beberapa perusahaan dianggap sebagai sebuah kekhususan yang dapat memposisikan kedudukan seseorang</p>
<p>Terlepas dari perspektif kolektivistik dan individualistik, organisasi adalah seperti mini society yang mempunyai keunikan bentuk budaya maupun subbudaya tersendiri untuk membedakan dengan organisasi lain.</p>
<p><em>Kekuatan dan keterbatasan organisasi sebagai budaya</em><em> </em></p>
<p>Dengan menggunakan metafora organisasi sebagai budaya akan memberikan arahan secara langsung kepada simbol simbol dari setiap aspek kehidupan organisasi. Aspek aspek tersebut meliputi struktur, hirarki, aturan dan rutinitas organisasi. Dengan mengetahui bentuk budaya organisasi,membantu pemimpin maupun manajer dalam melakukan aktivitas. Dengan metafora ini juga dapat mengenali hubungan antara organisasi dan lingkungan yang selanjutnya dapat memberikan kontribusi  tehadap pengetahuan dalam melakukan perubahan organisasi. Dengan demikian juga akan berimplikasi pada efektivitas dalam menyusun strategi.</p>
<p>Sebagai keterbatasan adalah cukup sulit menggunakan budaya sebagai bagian dari solusi masalah masalah managerial. Permasalahan dalam budaya sangat komplek sehingga tidak mudah untuk di kontrol. Di beberapa perusahaan bahkan budaya cenderung statis dan sulit menyesuaikan dengan keadaan lingkungan yang menuntut perubahan.</p>
<p><strong>Metafora 5. Organisasi sebagai sistem politik</strong><strong> </strong></p>
<p>(Interest- conflict and power – Organizations as Political Systems)</p>
<p>Dalam masyarakat yang demokratis setiap orang bebas menyampaikan pendapat, membuat keputusan dan mengharapkan keadilan. Organisasi mempunyai tujuan sedangkan individu dan kelompok juga mempunyai tujuan, dengan demikian didalam organisasi sarat dengan kepentigan kepentingan. Kepentingan kepentingan ini bisa memunculkan konflik antara organisasi, indvidu maupun kelompok. Supaya organisasi tetap efektif dalam suasana pencapian tujuan tersebut diperlukan kekuasan. Kekuasan ini disini ditujukan untuk meminimalkan rentang perbedaan kepentingan.</p>
<p>Dalam kontek seperti ini organisasi bisa berperilaku demokratis atau bahkan diktatorjuga bisa berbentuk birokrat maupun teknokrat.  Organisasi pada akhirnya memerlukan politik tertentu untuk mencapai tujuannya. Hal ini diperlukan untuk melakukan kontrol terhadap para pekerja. Munculnya kekuatan organisasi buruh dan berbagai aturan serikat pekerja menunjukkan adanya dinamika politik dalam organisasi.</p>
<p>Selanjutnya masalah kekuasaan menjadi isu strategis dalam berorganisasi karena dengan kekuasaan yang cukup pmpinan maupun manajer akan bisa meyusun aturan main dalam organisasi yang bisa disepakati oleh semua pihak dan bisa digunakan sebagai alat kontrol agar organisasi bisa berjalan secara lebih efektif.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Kekuatan dan keterbatasan organisasi sebagai sistem politik</em><em> </em></p>
<p>Sebagai sistem politik, kelebihan dari metafora ini adalah membantu untuk menjelaskan hubungan antara politik dan organisasi dengan penekanan pada kekuasaan dalam tujuan mencapai tujuan dan mendiagnosis kepentingan semua pihak. Juga membantu management untuk menjelaskan masalah efisiensi dan efektif dari perspektif pihak pihak yang berinteraksi dalam organisasi. Terpenting lagi adalah kita dapat mengenal perbedaan politik sosial dalam organisasi dan aturan main organisasi dalam masyarakat. Sebagai keterbatasannya adalah peluang terjadinya politasasi organisasi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Metafora 6. Organisasi sebagai physic prison </strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Organisasi dengan berbagai atributnya terkadang bisa menjadi penghambata kreativitas atau imaginasi para anggotanya. Hal sebagai akibat dari adanya arahan baik secara sadar maupun tidak sadar bahwa anggota organisasi harus mengikti aturan main dan kebiasan (budaya) dalam organisasi. Dalam beberapa kasus di organsasi dijumpai kemadulan kreativitas sebagai akibat organisasi yang tidak memfasilitasi dan mendukung adanya pikiran pikiran baru. Hal ini yang dimaksud organisasi sebagai pysic prison yang bisa menyebabkan anggota organisasi terjebak dalam situasi statis sehingga tidak responsive terhadap perubahan. Ada banyak penyebab hal ini terjadi dalam organisasi, antara lain pola pikir yang tidak berkembang dan ketidaksadaran bahwa organisasi sedang berhadapan dengan perubahan lingkungan.</p>
<p><em>Kekuatan dan keterbatasan sebagai physic prison</em><em> </em></p>
<p>Dengan menggambarkan organisasi sebagai tempat yang bisa memenjarakan pola pikir anggotanya maka kita dapat mengetahui beberapa penyebabnya sehingga bisa melepaskan diri dari jebakan kemandulan pola pikir yang seharusnya berkembang sekreatif mungkin untuk pengembangan organisasi. Juga memberkan pemahaman bahwa organisasi sebagai sesuatu yang dinamik dan mempunyai tantangan perubahan.</p>
<p>Dengan demikian anggota organisasi harus mempunyai wawasan baru dan tidak boleh mempunyai cara pandang dan cara berpikir yang sama terhadap organsiasi seiring perubahan waktu dan tuntutan jaman. Keterbatasan dalam metafora ini adalah kepentingan individu atau grup yang kuat serta pola pikir yang sudah terkunci bisa menyebabkan mereka terjebak dalam pola pikir mereka sendiri dan ini justru menjadi faktor penghambat utama untuk melakukan perubahan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Metafora 7. Organization as flux and transformation</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Organisasi sebagai sesuatu yang mengalami perubahan secara terus menerus dan melakukan tranformasi. Dengan demikian organisasi selalu memerlukan perspektif baru yang berkaitan dengan sistem dan lingkungannya dalam kontek perubahan. Masalah masalah managemen sudah tidak bisa diselesaiakan dengan cara cara lama melainkan diperlukan cara cara baru. Sebagai contoh masalah pencapaian target pasar mungkin tidak cukup diatasi dengan strategi pemasaran secara internal namun perlu perubahan radikal merger atau akuisisi misalnya.  Pemikiran pemikiran baru selalu dihubungkan dengan lingkungan. Isu lingkungan telah mengubah banyak praktek bisnis yang ramah lingkungan dan hemat energ juga berimplikasi pada produk yang dihasilkan. Pasar semakin menuntut produk ramah ligkungan dan hemat energi.</p>
<p><em>kekuatan dan keterbatasan</em><em> </em></p>
<p>Memahami organisasi sebagai sesuatu yang mengalamai perubahan terus menerus akan menghasilkan kesiapan dalam memasuki linkungan bisnis yang turblent dan penuh ketidakpastian. Dengan demikian akan lahir mind set baru dalam berorganisasi. Sebagai keterbatasan adalah ketidakpastian sangat sulit dikontrol sehingga memerlukan ketepatan prediksi yang akurat dengan demikian update informasi menjadi syarat penting.</p>
<p><strong>Metafora 8. Organisasi sebagai instrumen untuk menguasai</strong><strong> </strong></p>
<p>(Organization as Instrument of Domination)</p>
<p>Weber dalam teori birokrasi telah menyinggung adanya dominasi yang identik dengan kekuasan meliputi kekuasaan kharismatik, tradisional dan rational-legal. Intinya adalah dalam menjalankan roda organisasi diperlukan kekuasan yang itu bersifat mendominasi sehingga dengan kekuasaan itu fungsi perintah (command) bisa berjalan dengan baik. Morgan mencontohkan pembangunan piramid di mesir mustahil akan berdiri tanpa adanya suatu dominasi kekuasaan seorang raja untuk memerintah para budak agar tunduk dan patuh menmbangun piramid tersebut. Dalam era sekarang tidak jarang ditemui organisasi melakukan exploitasi terhadap karyawan untuk mengejar efisiensi dan efektivitas. Dengan dalih mengejar pertumbuhan, karyawan diperlakukan seperti mesin atau seperti serdadu yang harus patuh pada aturan dalam kondisi apapun. Karyawanpun sulit menuntut haknya karena posisi tawar yang lemah.</p>
<p>Dalam mencapai tujuannya tidak jarang organisasi ”mencaplok” pesaingnya dengan cara cara seperti merger ataupun akuisisi. Praktek bisnis multinasioal (MNC) beroperasi pada cakupan global menunjukkan suatu ambisi untuk mengusasi tidak hanya pasar tetapi juga resources sehingga melairkan market globalization dan product globalization. Beberapa pakar menyebutnya dengan istilah neo imperialisme.</p>
<p><em>kekuatan dan keterbatasan organisasi sebagai instrumen untuk menguasai</em><em> </em></p>
<p>Mengenal organisasi sebagai ala menguasai akan menunjukkan berbagai model exploitasi organisasi terhadap karyawan maupun terhadap para pesaingnya. Menjadi pijakan untuk melakukan kritik terhadap praktek praktek organisasi. Sebagai keterbatasan adalah adanya bias antara organiasi yang melakukan dominasi  dan tidak melakukan dominasi.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Referensi</span></strong></p>
<p>Gareth Morgan. Images of Organization. 2006. Sage Publications.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Ucapan Terima Kasih</span></strong></p>
<p>1.   Dosen pengajar mata kuliah teori administrasi DR. Jamhur Hamid dan DR Kusdi Rahadjo.</p>
<p>2.   Sahabatku Susanta dari UPN Jogja atas kiriman bukunya</p>
<p>3.   Kolonel J. Andreas navalino (LEMJIANTEK TNI AD) atas partisipasinya dan semua teman teman S3 PDIA 2010.</p>
<p>4.   Istriku tercinta katarina Setyaningrum untuk segelas teh hijau dan kehangatannya</p>
<p>Semoga artikel ini bermanfaat.</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Makalah ini merupakan Tugas Mata kuliah Teori Adminitrasi. Program Doktor Ilmu Administrasi Unibraw. Desember 2010.</p>
<p>Bagi anda yang  ingin  mendapatkan soft copy buku  image of organization (free) silahkan email  ke <a href="mailto:hanifmauludin@gmail.com">hanifmauludin@gmail.com</a> atau konfirmasi ke 085855575131</p>
</div>
</div><br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanif1973.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanif1973.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanif1973.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanif1973.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanif1973.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanif1973.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanif1973.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanif1973.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanif1973.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanif1973.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanif1973.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanif1973.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanif1973.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanif1973.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanif1973.wordpress.com&amp;blog=5281037&amp;post=29&amp;subd=hanif1973&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanif1973.wordpress.com/2011/02/16/images-of-organization/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ad1885b4b82e148096b6231a2e9be4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanif1973</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebiri</title>
		<link>http://hanif1973.wordpress.com/2009/12/22/kebiri/</link>
		<comments>http://hanif1973.wordpress.com/2009/12/22/kebiri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 07:28:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif1973</dc:creator>
				<category><![CDATA[wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanif1973.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Kebiri Oleh: Hanif Mauludin. SE, M.Si Saya awali tulisan ini dengan kisah dunia pewayangan, Adalah Karno bukan golongan bangsawan. Setiap hari dia belajar memanah secara otodidak. Keinginannya adalah dibimbing oleh Begawan. Durno, the best lecture cabang panahan. Saking ngefan-nya dengan Begawan Durno sampai-sampai dipasang patung Begawan kawakan itu dihalaman rumahnya tempat biasa dia berlatih memanah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanif1973.wordpress.com&amp;blog=5281037&amp;post=14&amp;subd=hanif1973&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a title="Permanent Link to Kebiri" rel="bookmark" href="http://padangbulan.wordpress.com/2008/11/17/kebiri/">Kebiri</a></h2>
<p>Oleh: Hanif Mauludin. SE, M.Si</p>
<p style="text-align:justify;">Saya awali tulisan  ini dengan kisah dunia pewayangan,</p>
<p style="text-align:justify;">Adalah Karno bukan golongan bangsawan. Setiap hari dia belajar memanah secara otodidak. Keinginannya adalah dibimbing oleh Begawan. Durno, the best lecture cabang panahan. Saking ngefan-nya dengan Begawan Durno sampai-sampai dipasang patung Begawan kawakan itu dihalaman rumahnya tempat biasa dia berlatih memanah. Alih-alih sebagai sumber inspirasi pikirnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-14"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ada lagi R. Arjuna, juga ahli dalam panahan. Pantaslah karena ia belajar panahan dibawah bimbingan langsung Begawan Durno dan memang murid tunggal. Tibalah saatnya R. Arjuna praktek memanah benda bergerak dan melesatlah anak panah menerobos rintangan dahan dan ranting. Buk!..pengawal berlarian mencari buruan. Alangkah terkejutnya semua yang hadir ketika ada dua anak panah menancap dibadan tupai tersebut. Dalam waktu bersamaan hadir Karno, dia mengklaim bawa tupai terjatuh karena anak panahnya. Ditengah perdebatan siapa pemanah sebenarnya,  iapun terkesima ketika melihat Guru Impiannya sang begawan durno.  Dan dia memohon agar dia diterima sebagai murid sang begawan.</p>
<p style="text-align:justify;">Perdebatan dilanjutkan. R. Arjuna mengklaim tupai adalah haknya, Karno juga mengklaim tupai adalah haknya. Ditengah perdebatan hadir Begawan Durno dengan sikap ”kelihatan” bijak nan arif dia mendamaikan. Sudah-sudah biar saya teliti dulu, kata sang begawan. Untuk menetukan siapa yang berhak dengan tupai ini, maka diadakanlah adu kecermatan memanah antara R. Arjuna yang bangsawan dengan Karno yang hanya anak desa. Walhasil hasilnya seri. Sama-sama jago.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Begawan Durno nyeletuk…Hai Karno kamu serius ingin jadi muridku….Iya begawan kata Karno penuh harap. Tapi ada syaratnya kata Begawan Durno…Syarat apapun akan saya penuhi Begawan……kata Karno. Sebagai syaratnya potonglah ibu jarimu sebagai bukti ketaatan dan kesetiaan kepada guru. Saking ngebetnya ingin jadi murid Begawan Durno tanpa pikir panjang karno langsung memotong ibu jarinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Arjuna protes hebat kepada Gurunya, Begawan!! kenapa karno diterima jadi murid begawan. Padahal begawan sudah berjanji kepada istana utuk menjadikan aku sebagai ahli panah nomor satu di jagat ini. Sambil manggut-manggut Begawan Durno berbisik lirih, tenang raden dia memang muridku tetapi dengan ibu jarinya hilang mustahil dia bisa belajar memanah dengan baik.</p>
<p style="text-align:justify;">……….Bersyukur kisah itu hanya ada di dunia pewayangan. Akan tetapi alangkah bahayanya jika didalam sebuah organisasi bisnis terlebih organisasi pendidikan yang didalamnya syarat dengan hal-hal yang berbau keilmuan justru terjadi perilaku seperti ala durno dan karno. Malah mengebiri potensi-potensi, kreasi-kreasi, keberanian-keberanian seseorang yang justru seharusnya di tumbuh kembangkan dan difasilitasi.</p><br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanif1973.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanif1973.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanif1973.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanif1973.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanif1973.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanif1973.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanif1973.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanif1973.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanif1973.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanif1973.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanif1973.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanif1973.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanif1973.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanif1973.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanif1973.wordpress.com&amp;blog=5281037&amp;post=14&amp;subd=hanif1973&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanif1973.wordpress.com/2009/12/22/kebiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ad1885b4b82e148096b6231a2e9be4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanif1973</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sense of organization</title>
		<link>http://hanif1973.wordpress.com/2009/12/22/sense-of-organization/</link>
		<comments>http://hanif1973.wordpress.com/2009/12/22/sense-of-organization/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 07:20:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif1973</dc:creator>
				<category><![CDATA[wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanif1973.wordpress.com/2009/12/22/sense-of-organization/</guid>
		<description><![CDATA[Sense of Organization Oleh: Hanif Mauludin Peter F.Drucker, Dalam Bukunya yang berjudul An Introductory View of Management, mengatakan, organisasi jika anggotanya mengalami organizitis “penyakit organisasi” dengan gejala seperti kelesuan atau penurunan sikap positif terhadap organisasi yang diakibatkan berkurangnya kesediaan serta kesetiaan untuk mengusahakan upaya yang tinggi bagi kepentingan organisasi merupakan masalah yang harus segera diatasi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanif1973.wordpress.com&amp;blog=5281037&amp;post=10&amp;subd=hanif1973&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800000;"><strong>Sense of Organization </strong></span></p>
<p>Oleh: Hanif Mauludin</p>
<p style="text-align:justify;">Peter F.Drucker, Dalam Bukunya yang berjudul An Introductory View of Management, mengatakan, organisasi jika anggotanya mengalami organizitis “penyakit organisasi” dengan gejala seperti kelesuan atau penurunan sikap positif terhadap organisasi yang diakibatkan berkurangnya kesediaan serta kesetiaan untuk mengusahakan upaya yang tinggi bagi kepentingan organisasi merupakan masalah yang harus segera diatasi. Nah ! apakah pembaca pernah mengalami atau mengetahui gejala seperti kata Drucker?.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-10"></span>Tulisan yang anda baca ini paling tidak dapat digunakan sebagai cermin bagi nahkoda dan awak organisasi untuk berkaca dan selanjutnya berperan menurut fungsi dan kapasitasnya.  Seiring dengan perubahan peradapan serta cepatnya laju perkembangan teknologi saat ini, muncul konsekuensi perubahan dinamika kehidupan masyarakat. Hal ini ditandai dengan peralihan pola hidup (manusia) dari tradisional ke arah kehidupan modern, pergeseran itu mendorong semakin meningkatnya tuntutan kebutuhan dan pengharapan manusia, baik kualitas maupun kuantitas. Untuk memenuhi pengharapan dan kebutuhan tersebut, pilihan yang harus dilakukan manusia adalah dengan melakukan suatu aktifitas. Namun, adanya keterbatasan-keterbatasan yang ada pada tiap-tiap individu; keterbatasan modal, fisik, daya pikir, maupun waktu, dibarengi agar tuntutannya (needs and wants) tetap dapat diwujudkan, manusia harus bekerjasama dengan yang lain. Kerjasama ini umumnya dilakukan dalam suatu wadah yang disebut organisasi. Melalui organisasi ini, memungkinkan individu meraih hasil yang sebelumnya tidak mungkin dicapai secara sendiri-sendiri.  Secara definitif organisasi dapat diartikan sebagai suatu sistem usaha bersama (kerja sama) sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi bukanlah fenomena yang jauh dan impersonal. Organisasi ada di mana-mana dan ia mempengaruhi kehidupan manusia. Sebagian besar waktu kita habiskan sebagai anggota dari organisasi kerja, sekolah, dan negara, dimana kita terlibat didalam organisasi tersebut sebagai karyawan, mahasiswa, dan warga negara.  Sesuai kodrat manusia yang bersifat sosial, manusia cenderung bekerja sama dalam hubungan yang saling bergantung dan hal yang inherent sehingga dengan sendirinya manusia pada dasarnya telah mempunyai sense of organization yang merupakan bagian dari kehidupannya. Dengan demikian tanpa harus didahului oleh usaha “menciptakan”, sense of organization menjadi sesuatu yang harus lebih dibudayakan dan dikembangkan pada setiap individu.  Sense of organization dapat diartikan sebagai sifat hubungan seorang individu dengan organisasi yang memungkinkan seseorang untuk mempunyai komitmen yang tinggi terhadap organisasi termasuk keterlibatan kerja, kesetiaan serta kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi yang merupakan tempat ia akan wewujudkan kebutuhan dan harapannya. Sense of organization juga dapat dimaksudkan sebagai suatu ikatan kejiwaan individu untuk berorganisasi secara utuh. Selanjutnya, sense of organization akan diperjelas sebagai derajat kepekaan seseorang akan hal-hal yang berhubungan dengan organisasi. Derajat kepekaan ini pada akhirnya akan mengalami proses transformasi baik secara afektif maupun kognitif yang selanjutnya terukur dalam bentuk perilaku individu dalam organisasi.  Sense of organization merupakan embrio terbentuknya commitment bukan hanya attachment semata. Dengan sense of organization yang dimiliki, anggota organisasi akan dapat bekerja dengan sepenuh hati, melibatkan diri secara aktif dan mengembangkan daya inovasi serta kreativitas dalam aktivitas organisasi dan pada gilirannya akan tercapai prestasi kerja yang tinggi. Keinginan setiap individu untuk berorganisasi sebenarnya telah lahir dengan sendirinya sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu setiap individu hanyalah membutuhkan semacam awareness untuk merawat dan menggunakan sense tersebut dalam aktivitas nyata agar tempat atau wadah dimana ia berkreasi dan berprestasi benar-benar dapat memenuhi kebutuhan dan harapannya. Dengan kata lain setiap individu harus melakukan pemberdayaan terhadap sense of organization.  Sense of organization yang tinggi akan memperlihatkan beberapa perilaku anggota organisasi sebagai berikut: (1)Keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi.“Organization without people is nothing”, Loyalitas terhadap organisasi merupakan salah satu modal dasar agar organisasi tetap sustainable. Jika setiap anggota organisasi memiliki kesetian yang tinggi maka organisasi akan memiliki kekuatan didalam menghadapi tantangan. (2)Kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi. “People without activity is zero”, Kinerja manusia merupakan sumbangan yang penting bagi kinerja organisasi. Pekerjaan yang dilakukan tanpa spirit profesionalisme hanya akan menyebabkan kegagalan organisasi meraih tujuan. (3)Kepercayaan dan penerimaan yang kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi. “Trust is power”, Mangkirnya anggota organisasi terhadap nilai dan tujuan organisasi bisa di ibaratkan seperti sleeping with the enemy, dimana setiap saat ia dapat berubah menjadi senjata perusak organisasi yang paling efektif dan terkadang sulit dideteksi.  Selanjutnya apa peranan nahkoda organisasi dalam hal pemberdayaan sense of organization anggotanya, beberapa variabel dapat dilakukan antara lain: (1)Pencanangan visi/misi organisasi. Artinya, dengan menyadarkan bahwa individu tidak hanya cukup sebagai anggota akan tetapi juga paham terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi sehingga dapat memahami sasaran dan kebijaksanaan organisasi yang pada akhirnya dapat berbuat dan bekerja sepenuhnya untuk keberhasilan organisasi. (2)Perhatian terhadap anggota. Dalam organisasi yang sudah berjalan, perhatian organisasi terhadap aggotanya diwujudkan melalui keseimbangan antara pemenuhan hak dan pemberian tanggung jawab. Beberapa pendekatan yang dapat dipergunakan antara lain : (a) Pendekatan humanis, fokusnya pada kesediaan/kerelaan pemimpin organisasi untuk melakukan perbaikan taraf hidup anggota. (b) pendekatan bisnis, memberikan pengertian pada anggota agar tetap bisa menjaga dan meningkatkan produktivitas karena terwujudnya kebutuhan dan harapan mereka bermula dari kinerja organisasi yang baik. (3)Pelatihan dan pengembangan. Kesempatan untuk memperoleh peningkatan keterampilan dan keahlian merupakan bagian dari penghargaan. Dengan merasa dirinya dihargai maka diharapkan individu semakin lebih erat sebagai bagian dari organisasi. (4)Keterlibatan anggota. Melibatkan anggota organisasi dalam segmen-segmen tertentu sesuai dengan kapasitas dan kapabiltasnya diharapkan dapat meningkatkan rasa kepercayaan dan tanggung jawabnya terhadap organisasi.  Kesimpulan, seperti yang pernah dikatakan oleh Socrates bahwa “manusia adalah makhluk kecil yang nampak tiada bermakna ditengah alam raya yang maha luas”. Hal ini mengisyaratkan adanya keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki manusia dalam menjalani kehidupannya. Oleh karena itu secara alamiah manusia telah dibekali naluri untuk bekerja sama dengan manusia lainnya dalam rangka mengisi keterbatasan-keterbatasan tersebut yang umumnya melalui suatu wadah yaitu organisasi. Dalam berorganisasi diperlukan adanya ikatan kejiwaan (sense of organization) sebagai tenaga penggerak utama demi terselenggaranya fungsi organisasi yang efektif. Apabila individu mempunyai sense of organizationSense of organization merupakan cikal bakal terbetuknya commitment yang tinggi, lebih dari sekedar attachment dimana commitment merupakan variabel yang dapat mempengaruhi performance. Dengan demikian sense of organization merupakan pondasi utama terhadap kelangsungan organisasi didalam mencapai tujuannya. Nah!, sudahkan nahkoda organisasi dan awak organisasi berdayakan yang tinggi, maka yang muncul bukan hanya sifat loyal yang pasif, tetapi juga melibatkan diri dalam hubungan yang aktif dengan organisasi kerja.</p><br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanif1973.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanif1973.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanif1973.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanif1973.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanif1973.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanif1973.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanif1973.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanif1973.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanif1973.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanif1973.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanif1973.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanif1973.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanif1973.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanif1973.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanif1973.wordpress.com&amp;blog=5281037&amp;post=10&amp;subd=hanif1973&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanif1973.wordpress.com/2009/12/22/sense-of-organization/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ad1885b4b82e148096b6231a2e9be4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanif1973</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Entrepreneur Inside</title>
		<link>http://hanif1973.wordpress.com/2008/10/29/entrepreneur-inside/</link>
		<comments>http://hanif1973.wordpress.com/2008/10/29/entrepreneur-inside/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 08:39:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif1973</dc:creator>
				<category><![CDATA[kewirausahaan]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanif1973.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Pasca kerusuhan di Tuban, saya dan keluarga menyempatkan diri untuk mengunjungi kota itu. Lantaran saya kangen mertua dan istri rindu kampung halaman. Memang benar kata Koran, pendopo kabupaten hancur porak poranda. Dipusat kota ribuan massa berdemo karena belum puas dengan hasil PILKADAL (Pilihan Kepala Daerah Langsung). Dibagian pinggiran kota menuju pesisir pantai saya melihat sekelompok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanif1973.wordpress.com&amp;blog=5281037&amp;post=4&amp;subd=hanif1973&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&amp;" lang="FR">Pasca kerusuhan di Tuban, saya dan keluarga menyempatkan diri untuk mengunjungi kota itu. Lantaran saya kangen mertua dan istri rindu kampung halaman. Memang benar kata Koran, pendopo kabupaten hancur porak poranda. Dipusat kota ribuan massa berdemo karena belum puas dengan hasil PILKADAL (Pilihan Kepala Daerah Langsung). Dibagian pinggiran kota menuju pesisir pantai saya melihat sekelompok bapak-bapak dan ibu-ibu sedang sibuk mengolah hasil melaut (baca:nelayan). Kelompok bapak sedang sibuk menyeleksi dan menyiapkan Ikan kakap, kerapu, bawal, cumi-cumi, udang, rajungan dan beberapa hasil tangkapan lainnya untuk dijual ke pelanggan. Sedangkan kelompok ibu sibuk dengan menjemur ikan, membuat ikan asap dan sebagian terlihat membuat terasi. <span id="more-4"></span>Tertarik dengan aktivitas mereka saya pun menyempatkan berbincang. Lho kok ndak ikut ke alun-alun untuk demo, dan seorang ibu menjawab. </span><span style="font-family:&amp;">Sir! ….We do not manage politic nor macro economy but we manage opportunity…Luar biasa!!!, mereka layak disebut sebagai wirausaha nelayan BUKAN sekedar nelayan pada umumnya yang hanya menangkap ikan. Disamping cakap sebagai nelayan merekapun cakap dalam mengolah hasilnya supaya lebih bernilai tambah. Dalam bahasa kampus tindakan itu disebut value added.  Cumi-cumi diolah dan dikeringkan selanjutnya dikemas secara praktis siap untuk dimasak sehingga laku tiga kali lipat ketika dijual. Ikan asap laku dua kali lipat dari ikan mentah, rajungan dikelompokkan menurut ukurannya dengan kriteria A dan B menimbulkan kualitas berbeda dan tentu harganya berbeda. Hasil tangkapan yang tidak masuk pasar diolah menjadi bahan dasar terasi, krupuk ikan dan beberapa produk olahan lainnya. Kemampuan membaca peluang, ada inovasi-kreativitas serta keinginan untuk tumbuh dan berkembang telah menjadi mindset bisnis mereka. Layak kita puji ketika banyak nelayan nelayan lain hanya menjadi nelayan bukan wirausaha nelayan. </span><span style="font-family:&amp;" lang="SV">Itulah maksud Entrepreneur Inside, tanamkan semangat kewirausahaan didalam setiap aktivitas kerja dan bisnis, dimanapun dan kapanpun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&amp;" lang="SV">Banyak orang beranggapan bahwa kewirausahaan adalah identik dengan usaha mikro atau kecil. Tidaklah demikian!, wirausaha menciptakan usaha dengan cara pandang kewirausahaan, artinya mengejar peluang yang ditandai dengan praktek inovasi dan bertumbuh dengan profitabilitas sebagai sasaran utamanya. Sedangkan usaha kecil dilain pihak adalah organisasi yang dimiliki, dioperasikan dan dibiayai secara independent, mempunyai kurang dari 100 karyawan dan tidak harus terlibat dalam praktek bisnis baru atau inovasi.  Agar menjadi kewirausahaan, usaha mikro/kecil harus inovatif dan mencari peluang baru. Banyak perusahan kecil dalam perkembangannya selalu kecil dan terus mengecil yang pada akhirnya terlibas oleh perubahan lingkungan bisnis. Memang tidak salah! seseorang atau sekelompok orang yang berjuluk wirausaha bisa memulai usahanya dari bisnis dalam skala kecil, namun mereka selalu mengejar pertumbuhan. Sehingga walaupun bisnis skala kecil, tapi bukan kecil- kecilan apalagi asal-asalan, melainkan berkonsep, unik dan dikelola secara profesional. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&amp;">Dalam kontek modern, kewirausahaan memerlukan pendidikan dan pembelajaran. Melalui pendidikan dan pembelajaran inilah diharapkan individu atau kelompok memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan usaha/kegiatan bisnis secara mandiri. Pendidikan/pembelajaran dan sosialisasi kewirausahaan bagi setiap individu atau kelompok masyarakat sangat penting dilakukan utamanya bagi mereka yang tertarik untuk berwirausaha. Secara mikro, pendidikan/pembelajaran dan sosialisasi kewirausahaan akan dapat membentuk seseorang mempunyai jiwa mandiri, mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain, dan memberikan solusi “terbaik” bagi masalah pengangguran. Secara makro, pendidikan/pembelajaran dan sosialisasi kewirausahaan dapat menciptakan wirausaha yang bermutu, tangguh dan beretika sehingga dapat menunjang pertumbuhan usaha.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&amp;">Begitulah Wirausaha dengan Entrepreneur Inside-nya yang cenderung berkreativitas tidak dengan cara yang biasa melainkan dengan cara yang luar biasa. Mereka lebih banyak menggunakan otak kanan yang eksperimental, intuitif, holistik, divergen, spontanitas dan nonverbal. Dalam menyikapi pasar mereka tidak “terlalu” terseret oleh carut marut politik dan gonjang ganjing kondisi ekonomi makro yang sarat dengan dalil-dalil maupun asumsi-asumsi yang terkadang menakut-nakuti dengan hasil analisis yang jlimet, linear, numerikal dan presisi. Melainkan mereka sibuk mencari peluang-peluang baru dan selalu komitmen dengan bisnisnya. Ibarat ombak dan kapal, ketika ombak naik kapalpun naik ketika ombak turun kapalpun turun. Wirausaha apapun bisnisnya selalu seperti itu ada untung ada rugi. Dengan selalu berpikir positif dan berusaha keras, percayalah TUHAN sebagai penolong yang terbaik dan suksespun siap diraih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;"> </span></p><br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanif1973.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanif1973.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanif1973.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanif1973.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanif1973.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanif1973.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanif1973.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanif1973.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanif1973.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanif1973.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanif1973.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanif1973.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanif1973.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanif1973.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanif1973.wordpress.com&amp;blog=5281037&amp;post=4&amp;subd=hanif1973&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanif1973.wordpress.com/2008/10/29/entrepreneur-inside/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ad1885b4b82e148096b6231a2e9be4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanif1973</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
